Rabu, 23 Juni 2010

tutup mataku

mataku indah.
mataku malang.
tapi aku tidak mengerti,
aku tidak memahami apa itu mata.
maksudku mana mata kenyataan dan mata maya.
mata kenyataan membuatku untuk terdiam, dan memilih untuk mundur,
tapi.. mata mayaku memaksaku untuk mewujudnya apa yang disebut maya.
lebih baik aku tutup mata mayaku, agar aku melihat dunia ini dengan mata nyata, dan menutup semua dunia mimpiku dengan mata maya.

bodoh

bodoh memang,
menggambar hati dengan mata tertutup.
sehingga gambar itu berantakan.
seharusnya aku melihat dengan mata terbuka dengan mata kenyataan.

bodoh memang,
duduk sendiri, menunggu hujan yang deras ini berhenti tapi serasa tetap hujan.
terasa semakin deras dan sakit.

dan bodoh memang, sehingga wajar kalau aku dipanggil bodoh.

bulan

bulan,
terangmu membuatku beku.
membuatku pilu.
membuatku mati kaku.

bulan,
setiap malam aku duduk, terdiam memandangmu.
mengamatimu.
waktu membawaku hingga pagi dan kehilanganmu.
tapi bulan,
aku tetap setia menunggu malam datang untuk melihatmu.
hanya melihatmu, karena aku sadar.
agar aku bisa terbangun dari mimpiku.
bahwa aku hanya bisa melihat bulan, dan tidak bisa memelukmu bulan.
karena dengan hanya melihatmu dari kejauhan cukup membuat aku senang.
senang dan sadar, sangat sulit memelukmu "bulan".

Life House - You and me

‘Cause it’s you and me
And all of the people
With nothing to do
Nothing to lose

And it’s you and me
And all of the people
And I don’t know why
I can‘t keep my eyes off of you

fahmiirfan

Rick Price - If you Were my Baby

I'd never be lonely
If you were my only love
If you were my baby
I'd take my last breath
Before I would let you go
And I promise I'd love
you forever and ever
If you were my baby

Oh, how wonderful life would be
If you'd give your love to me
Just to hold you endlessly
Is all I'd ever need
fahmiirfan

bukan tentang

bukan tentang layangan yang butuh senar kuat.
bukan tentang penumpang yang harus terjatuh untuk menyelamatkan diri, tapi akhirnya dia harus jatuh dan sakit.
bukan tentang merah atau biru, atau bukan tentang hati yang diwarnai terlalu merah.
bukan tentang senyum, bukan tentang elang yang terbang tinggi dan meniupkan angin kesegaran.
tapi ini tentang membuat itu semua terkubur dalam kotak hitam dimana saya masih terjebak disitu sampai sekarang.

hati ini merah II

hari ini seperti biasa, waktu yang lama.
hari ini seperti biasa, senyum itu mengganggu gambarku.
menggambar bukan keahlianku, bukan sesuatu yang aku banggakan.
hari ini aku berpikir untuk menggambar apa yang aku banggakan.
hati ini, hari ini, hati ini hari ini aku ulangi kata itu terus.
hati ini hari ini hati ini terasa sangat merah.
merah sekali.
aku duduk sendiri di sisi pojok tembok.
aku terdiam, terlalu.
seseorang datang dan meminjamkan aku pensil warna merah.
lebih merah dari milikku.
senyum itu, cukup aku balas senyum.
ternyata tidak hanya meminjamkan pensil warna merah, tapi juga menggambar hati yang besar di sisi pojok tembok tempat aku terdiam, terlalu.