Kamis, 31 Desember 2009

semoga ini lebih baik, maksud saya membaik.

semua ini hanya klise, setiap kata-kata yang terucap tersisipkan kebohongan.
kebohongan yang harusnya bisa saya hindarkan agar tidak menyakitin orang lain.
saya akan merubah agar lebih baik, maksud saya membaik.
saya tidak bisa berubah ekstrim, saya tidak bisa berbah dari minus menjadi plus, saya dan keinginan saya tapi bisa membantu saya untuk berubah.
bukan berubahan besar,bukan keinginan semu, bukan pengharapan dari sang pemimpi.
tapi perubahan akan kehidupan yang lebih baik.

kahakiti (read : kaki hati)

waktu berjalan mundur, hari itu kaki ini terasa utuh. terasa dapat berjalan normal.
tapi ketika waktu di percepat sangat cepat hingga tak terasa waktu yang mendorong aku jatuh.

kaki ini serasa mati, badan ini serasa tidak memiliki penopang.aku butuh satu kaki baru, tapi butuh waktu lama untuk memilikinya. butuh waktu lama untuk berjalan kembali. berjalan menepi dan sendiri.

Sabtu, 19 Desember 2009

like this


bertelanjang hati

mungkin badan ini terbungkus rapi, mungkin raga ini tetap berada dalam wajar yang seharusnya.
waktu juga masih tetap berjalan sesuai dengan kebutuhannya.
ketika badan ini terbungkus rapi sesuai dengan kenyatan, sandiwara ini akan tetap berjalan.
tapi hati akan tetap terasa diam, dan sepi.
hati ini mungkin tak bisa berbicara, tapi jelas bisa merasa.
hati tidak bisa bersandiwara, dia akan tergeletak mencari kebenaran, mencari apa yang di sebut kesepakatan.

ego, mimpi, harapan bergulat dengan bebas

ketika mimpi ini merasuk dan membawa aku ke angan, dan saat itu harapan muncul, muncul ke atas dan ikut terbawa terbang, mungkin ini tampak muluk - muluk.
tapi mimpi terus meyakinkan bahwa aku akan baik - baik saja. tapi ini salah, justru mimpi menjatuhkanku, sehingga muncul ego dan bergulat bebas dengan keinginan. keegoisan, kesalah pahaman, keinginan.

keinginan akan mimpi yang belum pasti akan tercapai.
keinginan akan keegoisan akan suatu hal yang tidak pasti.
atau memang ini hanya keinginan yang tertunda?
saya harus menunggu malam yang menjawab.

saya dan sebuah mimpi

saya terbang bersama mimpi dan mimpi dan mimpi, saya menyebut mimpi ini sampai tiga kali karena mungkin terlalu banyak mimpi yang saya harus dapatkan.
apa yang salah dari mimpi saya?
ketika saya terbang saya justru jatuh karena mimpi itu.
apa harus saya perbaiki mimpi itu menjadi lebih ringan. ataukah harus saya hilangkan saja mimpi itu. tapi sepertinya mimpi itu lebih memilih untuk mimpi lain. dan itu bukan mimpi saya.




mimpi ini untuk kamu.
ibodooh






Jumat, 18 Desember 2009

terserah dan menyerah

waktu tetap mencengkramku, aku tetap berpegangan kuat.
tapi waktu juga membuat aku melepaskan peganganku, tidak aku longgarkan tetapi benar - benar aku lepas.
mungkin selama ini aku terlalu keras berpegangan, sehingga itu justru melukai aku.
tapi sejenak aku berpikir untuk apa pegangan aku selama ini, kuat dan menjaga. ternyata aku salah menilai, atau haruskah aku berkaca untuk melihat peganganku? mungkin memang ada yang salah dari pegangan ini.
mungkin lain kali, aku tidak mencengkram terlalu keras dan justru melukai diriku sendiri.
tapi tetap saja mata ini tidak bisa jauh melihat dari keadaan, dan ketidak adilan.

parasut pesawat perasa

aku senang terbang tinggi, aku senang berada di atas.
aku memang hanya seseorang yang terjebak di dalam pesawat.

lama sekali aku terbang tinggi, tidak butuh penumpang lain karena aku penumpang satu-satunya, terbangku mungkin terlalu tinggi, sehingga aku tidak bisa melihat sekitar, ternyata aku bisa melihat kabut, kabut yang ikut menemani aku ketika berada di langit, ternyata bukan hanya kabut, awan pun ikut menemani, tanpa aku sadari sudah cukup lama aku terbang, aku jenuh terbang terlalu lama, ini sangat monoton kapten! tapi kapten hanya menengok dan menyuruhkan melompat untuk menyelamatkan aku, aku bertanya "mana parasutku?".
kapten hanya menjawab "maaf, sudah aku berikan pada penumpang yang lain".
bukankah aku hanya sendiri di pesawat ini bersamamu, tapi ternyata tidak, aku kehilangan parasutku, dan aku musti jatuh ke tanah tanpa parasut, parasut yang bisa menjagaku, tapi sekarang aku tidak punya parasut,aku tidak punya kapten, dan aku tidak bisa mengendarai pesawat seorang diri, aku butuh kapten. mungkin kapten baru.

ketika rusuk menembus dada

ketika aku terbangun dari semua kenyataan, mungkin kenyataan akan memori silam.
memori silam yang aku kira tidak akan terulang, tapi ternyata semua kembali dalam suatu kotak yang membuat aku susah mengingat atau melupakannya.
ketika aku melihat ke semua menjadi klise, semua hanya kemunafikan yang sebenarnya di cari selama ini.
kemunafikan yang dekat dengan pengkhianatan.
dan saat itu juga aku bisa merasa rusuk ini menembus dada.

terjatuh di saat bermimpi

aku punya mimpi kecil, aku ingin menjadi layang-layang yang bisa terbang tinggi di angkasa, layang-layang yang selalu menang ketika di adu oleh layang-layang lain.
tentu saja dengan senar yang kuat yang menghubungkannya.tapi ketika aku merasa menjadi layang-layang tidak seperti yang aku pikirkan.
aku harus jatuh berkali-kali ke tanah untuk bisa terbang tinggi, dan aku harus menunggu angin kencang supaya angin bisa membawa aku ikut terbang, dan yang satu lagi aku pikirkan ketika menjadi layang-layang adalah aku harus mencari senar yang kuat agar aku bisa terus menang ketika aku di adu dengan layang-layang lain.