Selasa, 11 Mei 2010

tawaran

siang itu, terang menawarkanku untuk melihat dengan kedua mataku.
lama sekali waktu yang dibutuhkan terang.
jam berubah jam menjawab.
malam itu, dan dia menawarkan aku melihat gelap dengan kedua mataku.
kau tahu sesuatu?
bahkan mataku tidak mampu melihat gelapnya ini. mataku tak mampu menembus kegelapan. dan tidak ada penuntun.
dan akhirnya gelap ini membeku.
dan memilih untuk semu.

saya dan doa yang sama

oh tuhan,
jangan kau padamkan mimpi kecilku.
jangan kau tiup mimpi-mimpiku sehingga aku pun tidak punya mimpi.
jangan bekukan mimpiku seolah aku tidak punya arah sekarang.
dan jangan biarkan orang lain memburu mimpi kecilku.

ini lebih

ini lebih gelap dari malam hari.
ini lebih gelap dari mendung sebelum hujan.
ini lebih gelap ketika padamnya lampu.
ini bertambah gelap ketika mimpi ini terpaksa padam.

hati ini merah

hari ini bukan hari pertama aku mewarnai gambarku, seperti anak kecil sedang mewarnai gambarnya.
tapi aku bukan anak kecil lagi, sudah cukup dewasa bagiku.
akhirnya sampai di gambar hati.
aku terdiam.
cukup lama, lama sekali.
aku mencari pensil warnaku. terus mencari.
warna apa yang cocok untuk hati ini.
ternyata waktu menentukan warna apa yang cocok untuk hati ini.
kupilih warna merah, tapi tampaknya terlalu merah.
sangat merah sehingga aku sampai sekarang tidak tahu kenapa aku mewarnai hatiku ini dengan warna merah.
mungkin harusnya aku tak mewarnai hati ini dengan warna merah, atau seharusnya tetap putih tidak memiliki warna.